Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam teruntuk Rasulullah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.Air adalah salah satu nikmat Allah yang sangat agung. Ia menjadi sumber kehidupan manuisa, hewan, dan tumbuhan. Semuanya tidak bisa lepas dari air. Sebagaimana firman AllahSubhanahu Wa Ta'ala,وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ“Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” (QS. Al-Anbiya': 30)Allah telah menyediakan nikmat ini untuk makhluk-makhluk-Nya di bumi. Sumbernya ada yang keluar dari tanah, turun dari langit (hujan), atau mengalir disungai dan lautan.. . . air hujan yang turun dari langitini adalah air penuh berkah. Yakni banyak mengandung kebaikan . . .Air Hujan salah satu nikmat yang banyak Allah sebutkan dalam Al-Qur'an. Manfaat dan kegunaannya sangat banyak, tidak diketahui detailnya kecuali oleh AllahSubhanahu Wa Ta'ala.Allah mengabarkan, Dia menghidupkan bumi yang mati dan kering melalui guyuran hujan. Airnya menghidupkan bumi & menghijaukannya.وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ“Dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan.” (QS. Al-Baqarah: 164)Dengan sebab hujan, Allah menumbuhkan tanam-tanaman, sayur-mayur dan buah-buahan sebagai sumber makanan, “dan Dia menurunkanair (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu.” (QS. Al-Baqarah: 21)Maka air hujan yang turun dari langit ini adalah air penuh berkah. Yakni banyak mengandung kebaikan. Ia bisa menyucikan bumi dari kotorannya, membersihkan badan dari kotoran debu& najis. Ia adalah air suci secara dzat & menyucikan yang lain.Kita lihat dalam Sunnah, NabiShallallahu 'Alaihi Wasallamsangat berharap banyak kebaikan pada hujan yang Allah turunkan. Beliu berdoa saat melihat hujan yang lebat,اللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا"Ya Allah, -jadikan hujan ini- hujan yang membawa manfaat -kebaikan-." (HR. Al-Buhari, dari hadits 'AisyahRadhiyallahu 'Anha)Dalam riwayat Muslim, dari 'AisyahRadhiyallahu 'Anha, “Dan apabila 'Alaihi Wasallammelihat hujan, beliau membaca:RAHMAH(ini adalah rahmat).(HR. Muslim). . . hujan adalah rahmah . . .RasulullahShallallahu 'Alaihi Wasallamjuga pernah menyibakkan bajunya agar tubuh beliau terkena air hujan. Saat beliau ditanya tentangnya, beliau menjawab:لِأَنَّهُ حَدِيثُ عَهْدٍ بِرَبِّهِ تَعَالَى“Karena sesungguhnya hujan ini baru saja Allah Ta’āla ciptakan.” (HR. Muslim)Hal ini, sebagaimana dijelaskan Imam Nawawi, karena hujan adalah rahmah. Baru saja diciptakan oleh Allah Ta’ala, maka beliau meminta berkah melaluinya. Caranya dengan membasahisebagian badan beliau dengan air berkah ini.RasulullahShallallahu 'Alaihi Wasallamjuga mengajarkan agar memuji Allah'Azza Wa Jalla, “Kami diberi hujan dengan karunia Allah dan rahmat-Nya.” (Muttafaq ‘Alaih)Selain itu, beliau juga mengajarkan agar berdoa kepada Allah & meminta kebaikan kepada-Nya saat turun hujan. Karena saat itu termasuk waktu yang mustajab. Maka dianjurkan bagi setiap muslim memperbanyak pada waktu tersebut.NabiShallallahu 'Alaihi Wasallambersabda:اُطْلُبُوا اسْتِجَابَةَ الدُّعَاءِ عِنْدَ الْتِقَاءِ الْجُيُوشِ وَ إِقَامَةِ الصَّلَاةِ وَنُزُوْلِ الْغَيْثِ"Carilah pengabulan doa pada saat bertemunya dua pasukan, pada saat iqamah shalat, dan saat turun hujan." (HR. Al-Hakim dalam al-Mustadrak: 2/114 dan dishahihkan olehnya. Lihat Majmu' fatawa: 7/129. Al-Albani menghassankannya dalam al-Silsilah al-Shahihah no. 1469 dan Shahih al-Jami' no. 1026)Dalam Shahih al-Jami’ Al-Shaghir yang berstatus hasan, disebutkan redaksi yang lain, “Dua kondisi yang tidak akan ditolak doa; saat adzan dan dibawah guyuran hujan.”Menurut al-Munawi, maksudnya adalah tidak ditolaknya doa di bawah guyuran hujan, atau jarang sekali ditolak. Karena saat itu adalah waktu turunnya rahmah. Wallahu Ta’ala A’lam.
Apa gunanya Kamu ikut-ikutan kebiasaan orang kebanyakan kalau pada akhirnya hanya Kamu sendiri yang akan menanggung akibatnya.
Tampilkan postingan dengan label Tips Kehidupan Dunia dan Akhirat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tips Kehidupan Dunia dan Akhirat. Tampilkan semua postingan
Minggu, 28 Desember 2014
Rabu, 27 Maret 2013
Kenapa ada orang yang galau?. Karena ia lupa akan
prinsip-prinsip hidupnya. Prinsip hidup yang harus dibangun:
maa fii qalbii ghairullah (Tidak ada di hatiku selain Allah)
Jika prinsip hidupnya maa fii qalbii ghairullah, maka
akan tenang apapun kondisinya.
Orang yang hatinya kosong dari harta bukan berarti ia
miskin. Dan apakah orang yang di hatinya hanya ada Allah tidak bisa mencintai?.
Tidak juga, tapi itu adalah sebenarnya cinta. Kalau cinta yang sebenarnya itu
relatif.
Sebenarnya cinta adalah cinta yang tumbuh dari hati
yang di dalamnya hanya ada Allah. Sebenarnya cinta akan terasa kesejukannya
pada saat kebeningan hati bertemu dengan kelezatan nafsu. 
Ke dalam diri manusia sudah Allah Ta’ala letakkan dua
bejana, yaitu bejana HATI dan NAFSU. Dalam hidup ini banyak orang yang salah
mengisinya. Misalnya ketika cinta kepada manusia diletakkan di hati. Cinta itu
ada di dalam nafsu. Sama halnya dengan benci, bukan di hati tapi di nafsu.
Ketika bertamu misalnya, kita disuguhi toples isi teh dan gelas isi kue. Tidak
sesuai.
|
Nafsu
|
Hati
|
|
Susah
Senang
|
Benar
|
|
Benci
Cinta
|
Baik
|
|
Takut
Berani
|
Mulia
|
Nafsu menimbulkan keinginan/rasa ingin. Nafsu adalah
mata air segala keinginan. Kemudian muncullah perbuatan. Yang meletakkan rasa
ingin adalah Allah, dan semua bergantung pada isinya nafsu.
Apapun isinya nafsu itu lezat, kecuali benci… Kalau
orang gampang membenci, berarti baginya benci itu nikmat.
Apa yang dimaksud dengan isi HATI yang benar, baik,
dan mulia?
BENAR : Sesuai dengan keinginan Allah Ta’ala
BAIK : Membaikkan perasaan orang lain
MULIA : Mengangkat nilai diri [di hadapan Allah
Ta’ala]
Orang yang berbuat baik, belum tentu orang baik.
Misalnya, anak berbuat baik kepada orang tua karena selama ini orang tuanya
telah berbuat baik kepadanya. [QS. Al Isra’: 23][QS. Al Ankabut: 8]
Kalau kita berbuat baik kepada orang tua, sedangkan
orang tua kita “njelehi”, keinginan mereka tidak sesuai dengan kita, dll, maka
kita bisa dibilang orang baik.
Jika isi hati bertemu dengan nafsu, maka ketika susah
pun adalah susah yang baik, benar, dan mulia. Misalnya, susah karena tadi malam
tidak tahajjud.
CINTA yang benar adalah cinta yang sesuai dengan
keinginan Allah.
CINTA yang benar:
-
Tidak mencintai karena penampilan fisik
-
Tidak membeda-bedakan cinta
-
Tidak ada harapan untuk memiliki
-
Tidak ada cinta dalam dan untuk kemungkaran
CINTA yang baik :
-
Tidak menimbulkan dampak negative (misalnya: VMJ, berhayal, dll)
-
Menjadi energy penyemangat untuk melipatgandakan ibadah dan amal shalih
-
Membuat diri luluh dalam kebeningan dan kesucian
CINTA yang mulia:
-
Menyejukkan hati siapapun
-
Tidak menggejolakkan nafsu orang lain
-
Menginspirasikan kebaikan untuk sesama
-
Menjadi contoh bagi siapapun yang menginginkan sebenarnya cinta
“Wahai orang-orang yang beriman jika kamu menolong
(agama) Alloh, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu” (QS.
Muhammad (47) : 7).
Sahabat sekalian, kadang saat berbuat kebaikan kita
merasa takut. Padahal kita yakin bahwa itu adalah kebaikan yang dicintai Alloh.
Namun hati kita merasa begitu berat sebagaimana orang yang dibelakangnya ada
ular dan didepannya ada parit. Dia akan takut untuk melampaui keduanya. Kalau
terus ke depan dia takut akan jatuh ke parit tapi kalau ke belakang dia takut
akan dicaplok ular. Demikian beratnya sehingga dia tidak berbuat sesuatu
keculai hanya diam di tempat. Demikian pula orang yang takut untuk berbuat
kebaikan sehingga tidak ada amal yang dia kerjakan. Lalu mengapa hal ini bisa
dialami oleh seseorang? Diantara penyebabnya karena dia takut menerima resiko.
Orang yang takut menghadapi resiko akan banyak keraguan dalam hatinya, akan
banyak pikiran-pikiran yang terlintas dalam akalnya sehingga dia sangat berat
untuk melakukan kebaikan bahkan boleh jadi dia batalkan kebaikan tersebut.
Penyebab kedua karena dia tidak yakin kepada Alloh. Setiap kebaikan pasti akan
mendapatkan keridhoan dan kecintaan Alloh. Orang yang tidak yakin kepada Alloh,
tidak yakin atas balasan Alloh dalam amalnya akan terasa berat dan kadang takut
dalam melakukannnya apabila itu ada resiko yang harus dihadapi. Padahal kalau
dia lakukan dengan berharap atas balasan Alloh pastilah Alloh tidak akan
menyia-nyiakan dirinya. Lalu bagaimana caranya menumbuhkan keyakinan kepada
Alloh? Diantara jalan untuk menumbuhkan keyakinan kepada Alloh adalah :
1. Yakin bahwa Alloh tidak akan
menyia-nyiakan dirinya.
Alloh Subhanahu
wa Ta’ala adalah Dzat yang Maha Pengasih dan Penyayang yang tidak mungkin
menyia-nyiakan hamba-Nya yang berbuat baik. Tidaklah mungkin Alloh akan
menimpakan keburukan bagi hamba-Nya yang beriman kepada-Nya. Semua yang Ia
timpakan kepada hamba-Nya pastilah demi kebaikan hamba tersebut. Namun banyak
orang yang tidak menyadarinya sehingga apabila ditimpa musibah dia
uring-uringan bahkan tidak jarang dia sampai bersu-uzhon (berprasangka buruk)
kepada Alloh. Maha suci Alloh dari perbuatan zhalim terhadap hamba-hamba-Nya.
Orang yang sakit melulu, kehilangan sepeda motor, kehilangan hand phone (HP)
lalu merasa disia-siakan oleh Alloh berarti dia tidak yakin kepada Alloh.
Karena boleh jadi hal tersebut sebagai jalan sedekah baginya yang selama ini
tidak pernah sedekah, atau barangkali hal itu sebagai jalan penebus atas
dosa-dosanya selama ini, atau untuk menaikkan derajatnya di sisi Alloh.
Ketika Ummu Musa diperintahkan untuk menghanyutkan si
Musa yang masih bayi untuk menyelamatkan kezhaliman penguasa Fir’aun yang
mengharuskan rakyatnya untuk membunuh setiap bayi laki-laki yang lahir, dia
yakin bahwa perintah Alloh pasti akan mendatangkan kebaikan. Sehingga ia
hanyutkan si bayi Musa dalam sebuah papan dan terus ia awasi sampai Alloh
mendatangkan orang yang memungutnya. Maha suci Alloh, ternyata istri Fir’aun
sendiri yang menemukan bayi tersebut sehingga Musa selamat dari pembunuhan
penguasa Fir’aun dengan rahmat Alloh. Demikian pula Ibrahim juga mempunyai
keyakinan yang kuat atas pertolongan Alloh ketika dia harus menghancurkan
patung-patung yang disembah oleh kaumnya, termasuk bapaknya sendiri yang
membuat patung yang disembah tersebut. Demikianlah keyakinan yang semestinya
dimiliki oleh para pejuang kebenaran, yakin bahwa Alloh tidak akan
menyia-nyiakan apa yang ia perjuangkan selama ini.
2. Yakin bahwa Alloh akan menolongnya
Seorang
mukmin yang memperjuangkan kebenaran, menegakkan agama Alloh agar mulya di muka
bumi haruslah mempunyai keyakinan yang kuat bahwa Alloh pasti akan menolongnya.
Sebagaimana firman Alloh : “wahai orang-orang yang beriman jika kamu
menolong (agama) Alloh niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan
kedudukanmu” (QS. Muhammad (47) : 7). Demikianlah Alloh akan menolong
siapapun yang menolong agama-Nya bahkan meneguhkan kedudukan orang tersebut.
Itulah tanda kasih sayang Alloh, yang akan memberikan balasan siapapun yang
berjuang untuk agama-Nya dengan balasan yang jauh lebih baik dari apa yang ia
korbankan untuk agama-Nya. Kalaupun sekarang kita lihat banyak orang-orang yang
tidak sholeh menguasai bumi ini, kita harus yakin bahwa suatu saat nanti Alloh
akan menjadikan orang-orang sholeh menjadi penguasa di muka bumi ini. Karena
bumi ini bukan diwariskan kepada orang-orang yang tidak sholeh, tapi diwariskan
kepada orang-orang sholeh yang senantiasa menegakkan agama Alloh.
3. Yakin akan pahala dari Alloh.
Kalau
seseorang melakukan sholat jama’ah di masjid maka dia yakin bahwa Alloh akan
melipatkangandakan pahalanya 27 derajad, dia yakin bahwa Alloh lebih mencintai
dirinya 27 kali derajad daripada ketika dia sholat sendirian. Demikianlah
seharusnya yang dimiliki oleh seorang mukmin, yakin bahwa Alloh akan memberikan
balasan pahala dari usahanya dalam setiap ibadah dan amal sholeh. Sehingga
mempunyai motivasi dan oprimisme dari setiap ibadah dan amal sholehnya.
Sebagaimana firman Alloh : “Tidak ada balasan kebaikan kecuali dengan
kebaikan (pula)” (QS. ar Rohman : 60). Ketika Mus’ab Bin Umair ikut perang
Badar, beliau mengunyah satu biji kurma merasa sangat lama kalau harus menunggu
sampai habis biji kurma tersebut untuk mendapatkan balasan Alloh berupa surga
bagi mereka yang mati syahid. Kita bisa bayangkan berapa lama untuk mengunyah
sebiji kurma, paling satu menit. Tapi satu menit menunggu syahid bagi Mus’ab
Bin Umair merupakan waktu yang sangat lama.
4. Yakin akan manhaj (aturan) Alloh
Kalau suatu
perusahaan tidak ada aturan mainnya kita akan tahu hanya dalam sehari saja
perusahaan tersebut pasti akan hancur. Kalau ada orang yang mempunyai sepeda
motor Honda tidak mentaati aturan perawatannya semisal oli yang seharusnya
diganti tiap bulan tapi diganti tiap tahun pastilah motor tersebut akan cepat
rusak. Dan aturan yang dipakaipun adalah aturan yang dibuat oleh pabrik Honda
karena merekalah yang tahu seluk-beluk motor yang dibuatnya. Kita bisa
bayangkan bagaimana jika sepeda motor tersebut dipelihara dengan aturan mesin
jahit, tentu akan hancur berantakan. Demikianlah setiap sisi kehidupan haruslah
ada aturan mainnya. Menikah juga ada aturan mainnya. Ada kisah menarik, ketika
ada seorang ikhwan yang menginginkan segera menikah dia mendatangi kantin
di fakultas lain tempat ia kuliah. Ketika sudah sampai di kantin tersebut dan
di situ ada seorang akhwat yang menarik hatinya, ia duduk di dekat si akhwat
dan langsung menawarkan diri untuk menikahi si akhwat kalau si akhwat memang
berkenan. Karena si akhwat tidak tahu siapa si ikhwan tadi, ia menjadi bingung.
Ta’aruf saja belum, tahu-tahu langsung menawarkan diri untuk menikah. Kita
salut atas keberanian si ikhwan tadi semoga Alloh memudahkan urusannya. Tapi dalam
menikah ada aturannya yang mesti dilalui sehingga bisa menggapai keluarga yang
barokah.
Dan kita hidup di dunia ada aturannya. Allohlah yang
menciptakan bumi ini dan seisinya termasuk kita. Dia pulalah yang berhak
membuat aturannya karena Dialah yang lebih tahu apa yang Dia ciptakan. Dengan
keyakinan terhadap manhaj Alloh ini akan mendatangkan assa’adah wal karomah (bahagia
dan mulia) tidak hanya di dunia tapi juga di akherat. Dan siapa yang hidup di
bumi Alloh ini tanpa memakai aturan Alloh, maka tunggulah saat kehancurannya. Wallohu
a’lam.
Ya Alloh, wahai Dzat yang Maha Pengampun, ampunilah
dosa-dosa kami, ampunilah sekiranya kami selama ini jarang mengingati-Mu,
ampunilah kalau selama ini kami belum bisa menegakkan aturan-Mu. Ya
Alloh ya Tuhan kami, berikan cahaya-Mu ke dalam hati kami, jadikanlah hati kami
hati yang selalu rindu kepada-Mu, hati yang selalu rindu untuk berjuang di
jalan-Mu, hati yang tidak pernah melupakan-Mu. matikanlah kami dalam keadaan
huznul khotimah, kumpulkanlah kami kelak bersama-sama dengan Rosululloh,
bersama para nabi-Mu, bersama dengan para shodiqin, para syuhada’, bersama
dengan orang tua kami, anak istri kami dan bersama orang-orang sholeh yang
sangat Engkau sayangi dan Engkau kasihi. Amiin.
Jumat, 09 November 2012
Sebagian orang
mungkin bertanya; apa arti kehidupan ini? Kalau kita cermati akan banyak sekali
jawaban untuk satu pertanyaan ini. Sebagian menjawab, bahwa kehidupan adalah
uang. Sehingga setiap detik hidup ini yang dicari adalah uang. Artinya apabila
dia tidak memiliki uang, seolah-olah kehidupannya telah hilang. Sebagian lagi
menjawab, bahwa kehidupan adalah kedudukan. Sehingga setiap detik yang dicari
adalah kedudukan. Sebagian lagi memandang bahwa kehidupan adalah kesempatan
untuk bersenang-senang. Maka bagi golongan ini kesenangan duniawi adalah tujuan
utama yang dicari-cari.
Saudaraku “Semoga
Allah SWT Merahmatimu” kehidupan ini adalah sebuah kesempatan yang sangat
berharga untuk kita. Jangan sampai kita sia-siakan kehidupan di dunia ini untuk
sesuatu yang tidak jelas dan akan sirna. Kenikmatan dunia ini pun kalau mau
kita pikirkan dengan baik, maka tidaklah lama. Sebentar saja, bukankah
demikian? Allah SWT berfirman (yang artinya), “Seolah-olah
tatkala melihat hari kiamat itu, mereka tidaklah hidup (di dunia) kecuali
hanya sesaat saja di waktu siang atau sesaat di waktu dhuha.” (QS.
an-Nazi’at: 46)
Lalu apa yang harus
kita lakukan di dunia ini? Sebuah pertanyaan menarik. Sebuah pertanyaan yang
akan kita temukan jawabannya di dalam al-Qur’an. Allah SWT berfirman
(yang artinya), “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan
supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat: 56).
Jangan salah paham dulu… Jangan dikira bahwa itu artinya setiap detik kita
harus berada di masjid, atau setiap detik kita harus membaca al-Qur’an, atau
setiap hari kita harus berpuasa, sama sekali bukan demikian… Ibadah, mencakup
segala ucapan dan perbuatan yang dicintai oleh Allah SWT. Allah SWT tidak
menghendaki kita setiap detik berada di masjid. Allah SWT juga tidak
menghendaki kita setiap detik membaca Al-Qur’an. Semua ibadah itu ada waktunya
yang terpenting bagi kita adalah melakukan apa yang Allah SWT cintai bagaimana
pun keadaan kita dan di mana pun kita berada.
Di antara
perkara yang dituntut pada diri kita adalah senantiasa mengingat Allah SWT,
sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa’sallam adalah
orang yang banyak berdzikir dan mengingat Allah SWT dalam segala kondisi. Ibnu
Taimiyah pernah mengungkapkan, “Dzikir bagi hati laksana air bagi
ikan. Lantas apa yang akan terjadi pada seekor ikan jika ia dikeluarkan dari
air?”. Rasulullah SAW bahkan mengatakan, “Perumpamaan orang yang
mengingat Allah dengan orang yang tidak mengingat Allah adalah seperti
perumpamaan orang yang hidup dengan orang yang mati.” (HR.
Bukhari)
Dengan mengingat
Allah SWT, maka kita akan berhati-hati dalam menjalani hidup ini. Karena Allah SWT
senantiasa mengawasi kita dan mengetahui apa yang kita ucapkan, apa yang kita
lakukan, di mana pun dan kapan pun. Tidak ada yang tersembunyi dari-Nya perkara
sekecil apapun. Inilah yang semestinya senantiasa kita tanamkan di dalam hati
kita. Oleh sebab itu Rasulullah SAW berpesan, “Bertakwalah kepada
Allah dimana pun kamu berada.” (HR. Tirmidzi). Kita
harus bertakwa kepada Allah SWT baik ketika berada di rumah, di jalan, di
kampus, di kost, di pasar atau di mana pun kita berada, ketika bersama orang
maupun sendirian.
Menjadi orang
yang bertakwa itu bagaimana? Saudaraku “Semoga Allah SWT Menunjuki Kita”
ketakwaan itu akan diraih manakala kita senantiasa mengingat adanya hari
pembalasan dan bersiap-siap untuk menghadapinya dengan menjalankan
ajaran-ajaran-Nya. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu’Anhu bahwa
takwa adalah, “Rasa takut kepada Allah SWT, beramal dengan wahyu yang
diturunkan, dan bersiap-siap menyambut hari kiamat.” Allahu a’lam.
Kamis, 04 Oktober 2012
Jika seseorang yang sudah meninggal dunia berkehendak untuk
menunjukkan kunci-kunci kebahagiaan kepada kita, agar kehidupan kita selalu
diselimuti dengan keselamatan jiwa, atau jika dia menyajikan jalan kehidupan
kepada kita, bagaimakah bentuk kata-kata termahal yang akan dia keluarkan? Dan
jika dia berkehendak untuk memberikan petunjuk kepada kita tentang kunci-kunci
kehidupan yang memberikan kenikmatan dan kemudahan bagi kita, apakah topik
pembicaraan yang akan ia angkat bersama kita? Dan jika ia berkehendak untuk
menciptakan wasiat kepada kita dengan segala kandungan mutiara yang ada di
dalam dunia, apakah yang akan ia katakan kepada kita?
2. Kekayaan
3.
Pemberian
4.
Berjuang melawan hawa nafsu
5.
Berusaha/Bekerja
6.
Optimis
7.
Perenungan (Introspeksi)
8.
Toleransi
Langganan:
Postingan (Atom)