Terima Kasih Atas Kunjungannya
Tampilkan postingan dengan label Menyapa Semesta Dengan Cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Menyapa Semesta Dengan Cinta. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 November 2012

Lemari Hati

Di rumah, kita biasa menyimpan baju-baju bersih, indah, dan wangi di lemari. Kita akan senang melihatnya terlebih aromanya yang harum mewangi. Betapa indah bila lemari pikiran dan hati kita juga hanya menyimpan pikiran dan rasa yang bersih dan baik.
Bila hati kita dipenuhi pikiran yang jernih dan positif, tentu membuat orang-orang disekitar kita akan terasa nyaman dan merasa bahagia. Hal ini dikarenakan, dalam wilayah spiritual juga dikenal tentang aroma. Orang-orang yang senantiasa menjaga pikiran dan hatinya akan menebarkan aroma wangi dan energi positif. Hal ini bisa dibuktikan langsung bila kita tengah duduk atau bersanding bersama orang-orang suci. Ada kenyamanan dan ketenangan yang kita rasakan.
Maka setidaknya, bila diri kita senantiasa menyimpan perbendaharaan pikiran yang positif, minimal kita dapat merasakan efek ketenangan secara langsung. Kalau dari diri sendiri sudah diperoleh ketenangan, kita punya banyak peluang dan kemungkinan untuk melakukan berbagai hal konstruktif yang manfaatnya dapat dirasakan oleh orang lain.

Hidayat, Komaruddin. 2010. 250 Wisdoms Membuka Mata, Menangkap Makna.Hikmah; Jakarta.

Jati Diri Alam

Tataplah langit seakan tidak ada penghalang antara mata kita dan langit. Namun, tengoklah ke arah samping maka benturan dan penghalang akan segera muncul. Menatap langit seperti menatap kebenaran sejati. Sementara menengok kesamping seperti mendapati kebenaran yang dipagari keakuan dan keangkuhan sehingga seketika menghadapi tembok dan benturan.
Para sufi sering kali menjadikan langit sebagai simbol ketinggian dan keluhuran pencapaian tingkat spiritual. Oleh karena itu, langit digambarkan sebagai representasi kebenaran Ilahi yang Maha Tinggi. Bila kita menatap langit, tidak ada sekat atau pun penghalang. Hal ini dikarenakan kebenaran Tuhan yang tidak terbatas. Berbeda ketika kita melihat dan mendapatkan arah disekeliling kita. Selalu saja ada pembatas, dinding, gedung, bangunan megah, bahkan hutan dan jurang. Hal ini dikarenakan lambang kebenaran yang selalu diselubungi oleh kotak-kotak pendapat dari berbagai kelompok.
Mari, kita cari kebenaran sejati dilangit. Bukan pada kelompok atau golongan, sekalipun menggunkan label Tuhan dan Agama.

Hidayat, Komaruddin. 2010. 250 Wisdoms Membuka Mata, Menangkap Makna.Hikmah; Jakarta.

Senin, 19 November 2012

Lembaran Semesta

Pelaut yang ulung adalah pelaut yang berani mengarungi luas samudera. Bila dirinya bimbang dan kehilangan arah, ia segera memandang bintang di langit sebagai petunjuk mata angin. Bagaimana dengan kita? Seberapa sering kita menatap bintang di hati agar arah dan jalan hidup kita senantiasa benar dan terjaga.
Kehidupan memang sebuah perjalanan yang melintasi berbagai jalur dan lintasan. Kadang jalur yng kita lalui begitu terjal dan berbatu. Bahkan tidak jarang kita temui banjir dan badai. Dalam situasi seperti ini kita membutuhkan panduan dan peta. Tetapi panduan dan peta saja tidak cukup. Terlebih di malam hari kita harus memasuki hutan belantara yang gelap gulita. Di sini kita membutuhkan nyala lentera dan obor.
Sesungguhnya, lentera selalu menyala di hati kita. Namun, diri kita yang sering kali mengabaikan keberadaan lentera itu. Lentera itu senantiasa bersinar melebihi sinaran bintang, bahkan matahari di angkasa. Namun karena awan keangkuhan (ego) terus-menerus menyelibungi hati, sinaran bintang tidak dapat menembus keluasan hati kita. Jadilah pelaut ulung di kedalaman samudera hati kita.

Hidayat, Komaruddin. 2010. 250 Wisdoms Membuka Mata, Menangkap Makna.Hikmah; Jakarta.