Terima Kasih Atas Kunjungannya
Tampilkan postingan dengan label Cerita Menarik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Menarik. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 April 2015

Universitas Kehidupan

Jika semua yang kita kehendaki terus kita MILIKI, darimana kita belajar IKHLAS.
Jika semua yang kita impikan segera TERWUJUD, darimana kita belajar SABAR.
Jika setiap doa kita terus DIKABULKAN, bagaimana kita dapat belajar IKHTIAR.

Seorang yang dekat dengan Tuhan, bukan berarti tidak ada air mata.
Seorang yang taat pada Tuhan, bukan berarti tidak ada kekurangan.
Seorang yang tekun berdoa, bukan berarti tidak ada masa sulit.
Biarlah Tuhan yang berdaulat sepenuhnya atas hidup kita, karena Dia tahu yang tepat untuk memberikan yang terbaik.
Ketika kerjamu tidak dihargai, maka saat itu kamu sedang belajar tentang KETULUSAN.
Ketika usahamu dinilai tidak penting, maka saat itu kamu sedang belajar KEIKHLASAN.
Ketika hatimu terluka sangat dalam, maka saat itu kamu sedang belajar tentang MEMAAFKAN.
Ketika kamu lelah dan kecewa, maka saat itu kamu sedang belajar tentang KESUNGGUHAN.
Ketika kamu merasa sepi dan sendiri, maka saat itu kamu sedang belajar tentang KETANGGUHAN.
Ketika kamu harus membayar biaya yang sebenarnya tidak perlu kau tanggung, maka saat itu kamu sedang belajar tentang KEMURAHAN HATI.
"Tetap semangat…
"Tetap sabar…
"Tetap tersenyum…
Karena kamu sedang menimba ilmu di UNIVERSITAS KEHIDUPAN.
TUHAN menaruhmu di TEMPATMU yang sekarang, bukan karena KEBETULAN.
Orang yang HEBAT tidak dihasilkan melalui kemudahan, kesenangan, dan kenyamanan. Mereka di bentuk melalui KESUKARAN, TANTANGAN & AIR MATA.

[Disadur dari Buku “Sepatu Dahlan Iskan”]

Kecemburuan Pohon Bambu Terhadap Bunga Mawar

Di sebuah taman, hiduplah sekelompok bunga mawar yang sedang berbunga. Mawar-mawar itu mengeluarkan aroma yang sangat harum. Dengan warna-warni yang cantik, banyak orang yang berhenti untuk memuji sang mawar. Tidak sedikit pengunjung taman meluangkan waktu untuk berfoto di depan atau di samping taman mawar. Bunga mawar memang memiliki daya tarik yang menawan, semua orang suka mawar, itulah salah satu lambang cinta.
Sementara itu, di sisi lain taman, ada sekelompok pohon bambu yang tampak membosankan. Dari hari ke hari, bentuk pohon bambu yang begitu saja, tidak ada bunga yang mekar atau aroma wangi yang disukai banyak orang. Tidak ada orang yang memuji pohon bambu. Tidak ada orang yang mau berfoto di samping pohon bambu. Maka tak heran jika pohon bambu selalu cemburu saat melihat bunga mawar dikerumuni banyak orang.
“Hai bunga mawar,” ujar sang bambu pada suatu hari. “Tahukah kau, aku selalu ingin sepertimu. Berbunga dengan indah, memiliki aroma yang harum, selalu dipuji cantik dan menjadi saksi cinta manusia yang indah,” lanjut sang bambu dengan nada sedih.
Mawar yang mendengar hal itu tersenyum, “Terima kasih atas pujian dan kejujuranmu, bambu,” ujarnya. “Tapi tahukah kau, aku sebenarnya iri denganmu,”
Sang bambu keheranan, dia tidak tahu apa yang membuat mawar iri dengannya. Tidak ada satupun bagian dari bambu yang lebih indah dari mawar. “Aneh sekali, mengapa kau iri denganku?”
“Tentu saja aku iri denganmu. Coba lihat, kau punya batang yang sangat kuat, saat badai datang, kau tetap bertahan, tidak goyah sedikitpun,” ujar sang mawar. “Sedangkan aku dan teman-temanku, kami sangat rapuh, kena angin sedikit saja, kelopak kami akan lepas, hidup kami sangat singkat,” tambah sang mawar dengan nada sedih.
Bambu baru sadar bahwa dia punya kekuatan. Kekuatan yang dia anggap biasa saja ternyata bisa mengagumkan di mata sang mawar. “Tapi mawar, kamu selalu dicari orang. Kamu selalu menjadi hiasan rumah yang cantik, atau menjadi hiasan rambut para gadis,”
Sang mawar kembali tersenyum, “Kamu benar bambu, aku sering dipakai sebagai hiasan dan dicari orang, tapi tahukah kamu, aku akan layuvbeberapa hari kemudian, tidak seperti kamu,”
Bambu kembali bingung, “Aku tidak mengerti,”
“Ah bambu..” ujar mawar sambil menggeleng, “Kamu tahu, manusia sering menggunakan dirimu sebagai alat untuk mengalirkan air. Kamu sangat berguna bagi tumbuhan yang lain. Dengan air yang mengalir pada tubuhmu, kamu menghidupkan banyak tanaman,” lanjut sang mawar. “Aku jadi heran, dengan manfaat sebesar itu, seharusnya kamu bahagia, bukan iri padaku,”
Bambu mengangguk, dia baru sadar bahwa selamaini, dia telah bermanfaat untuk tanaman lain. Walaupun pujian itu lebih sering ditujukan untuk mawar, sesungguhnya bambu juga memiliki manfaat yang tidak kalah dengan bunga cantik itu. Sejak percakapan dengan mawar, sang bambu tidak lagi merenungi nasibnya, dia senang mengetahui kekuatan dan manfaat yang bisa diberikan untuk makhluk lain.
***Daripada menghabiskan tenaga dengan iri pada orang lain, lebih baik bersyukur atas kemampuan diri sendiri, apalagi jika berguna untuk orang lain.

Sabtu, 11 April 2015

Belajar Dari Lebah

Lebah adalah salah satu hewan yang memiliki keunikan tersendiri. Banyak hal yang bisa kita pelajari dari seekor lebah yang merupakan hewan yang memiliki banyak manfaat. Lalu, apa saja yang bisa kita pelajari dari kehidupan lebah? berikut penjelasan mengenai bagaimana kita bisa belajar dari lebah, dikutip dari Merdeka.com.
Cukup berdiri di depan sarang lebah dan mengamati makhluk pekerja keras itu, maka Anda akan mendapatkan pelajaran hebat tentang bagaimana menjadi sukses. Percaya tak percaya, itulah yang dikemukakan oleh seorang profesor di Tamil Tandu Agricultural University, Dr N Ganapathy. Menurutnya, dengan mengadopsi etika bekerja lebah, seorang pekerja, bahkan perusahaan, bisa mendapatkan kesuksesan besar. Apa saja pelajaran yang bisa dipetik dari cara kerja lebah? berikut penjelasannya:
1. Pembagian tugas
Lebah memiliki lingkungan
n sosial yang terstruktur. Masing-masing lebah memiliki peran dan job desk masing-masing, serta menguasai perannya dengan baik. Secara genetik mereka diprogram untuk tidak menyalahi wilayah yang bukan merupakan wewenangnya. Jika seorang pekerja mampu mengetahui perannya dalam perusahaan dengan baik dan menguasai peran tersebut, maka kinerjanya akan meningkat dan perlahan mengantarkannya pada kesuksesan. Begitu juga jika perusahaan mampu menerapkan hal ini, maka tak akan ada konflik peran. Meski memiliki peran berbeda-beda, kawanan lebah hanya memiliki satu tujuan yang sama. Begitu juga dengan perusahaan. Pemimpin harus mampu menjabarkan tujuan profesional secara jelas, sehingga para karyawan dengan berbagai macam peran bersama-sama melangkah untuk satu tujuan pasti di masa depan.
2. Semangat kerja sama
Kerja sama bagi lebah lebih penting dibandingkan dengan kompetisi. Tak seperti yang ada saat ini, dunia kerja sarat akan kompetisi, terutama pada perusahaan yang besar dan aktif. Banyak yang paranoid, seolah kedudukannya akan tergeser jika tak berkompetisi. Namun tidak bagi lebah. Mereka tahu bahwa mereka tak mungkin bisa mencapai tujuan seorang diri, sehingga mereka bekerja sama dan hidup secara rukun dengan rekannya. Begitu juga dengan karyawan dan perusahaan. Menyatukan pengetahuan dan pengalaman, serta saling bekerja sama akan membuat pekerjaan menjadi efektif. Tak ada konflik yang terjadi. Masing-masing orang menghormati kontribusi dan peran dari rekannya.
3. Setia
Loyalitas adalah kunci kelangsungan hidup jangka panjang. Lebah setia terhadap pekerjaan yang mereka lakukan. Jika mereka membutuhkan waktu yang lama untuk mengambil madu dari satu bunga, maka mereka akan melakukannya terus-menerus. Pekerja yang baik juga harus setia pada pekerjaannya. Tak mudah berpaling dan tekun. Begitu juga karyawan yang bekerja untuk perusahaan harus setia terhadap aturan, seperti jam kerja.
4. Bekerja keras
Pernah melihat lebah madu bekerja? Lebah yang sedang bekerja akan terus-terusan bekerja dengan giat, seolah-olah nasib kawanannya sedang dipertaruhkan di tangannya. Tak ada keberhasilan yang bisa diraih tanpa kerja keras dan ketekunan. mereka yang bermalas-malasan hanya akan semakin tertinggal dan tergeser oleh yang bekerja keras. Bekerja keras juga berarti bekerja secara profesional dan efektif dalam penggunaan waktu kerja.
5. Tepat waktu
Ketepatan waktu adalah etika profesional umum yang tak jarang dilanggar oleh semua orang. Bagi lebah, tak boleh ada kata terlambat. Mereka bergantung pada matahari saat mencari makan, sehingga lebah akan berangkat ketika matahari terbit dan pulang saat matahari terbenam. tepat waktu adalah cara lebah untuk mendapatkan hasil optimal. Begitu juga bagi pekerja atau karyawan perusahaan. Tepat waktu juga akan memberikan hasil optimal karena pekerja menggunakan waktunya dengan efektif. Selain itu dengan tepat waktu, Anda tak akan mengalami stres karena terlambat.
6. Kewajiban dulu, baru hak
Bagi lebah, kepentingan kawanannya adalah yang harus diutamakan terlebih dahulu, baru kemudian kepentingan pribadinya. Mereka bekerja mengambil madu untuk kepentingan kawanan. begitu juga dengan lebah yang bertugas menjaga sarang, semuanya dilakukan demi kepentingan kawanan. Mungkin terlihat tak menyenangkan karena harus banyak berkorban. Namun, dengan mendahulukan kepentingan kawanannya, sistem kerja lebah berjalan dengan lancar, karena semua mengesampingkan ego pribadinya dan bersama-sama membangun kawanannya. Coba bayangkan jika lebah penjaga tak mau menjaga sarang karena egonya? Maka sarang dan seluruh kawanannya akan terancam rusak dan mati.
Nah, itu dia enam etika kerja yang bisa dipelajari dari hewan lebah. Dengan menerapkan enam cara di atas, Anda akan semakin dekat dengan kesuksesan.

Selasa, 06 Januari 2015

Apa yang Paling Jauh ?

Andai waktu bisa diputar kembali. Pasti kata-kata itu pernah terlintas dalam benak kita atau mungkin malah pernah terucap keluar dari bibir kita. Aku pernah membaca kata-kata bijak mengenai " four thing we never take it back" :

1. Ketika batu sudah dilempar
2. Ketika kata sudah terucap
3. Ketika kesempatan sudah pergi
4. Ketika waktu tak pernah kembali

Sebuah cerita menarik mengenai waktu, dahulu kala ada seorang bijak yang memberikan pertanyaan pada murid-muridnya seperti ini, 'Apa tempat paling jauh dimuka bumi ini?' ada yang menjawab 'kutub utara' adapula yang menjawab 'kutub selatan', sebagian lainnya menyebutkan desa-desa terpencil dimuka bumi ini, tapi tak ada satupun jawaban para murid yang tepat. Maka dengan santai sang bijak pun menjawab, 'Nak tempat yang paling jauh dimuka bumi ini adalah masa lalu. Saking jauhnya masa lalu, kita tidak akan pernah bisa kembali lagi ke sana walaupun hanya seper sekian detik.' Itu semakin menandakan bahwa 'waktu' adalah hal yang sangat berharga. Kebanyakan dari kita mengeluh seperti itu apabila baru menyadari telah melewatkan kesempatan terbaik di masa lalu atau ketika saat-saat lalu terlalu berharga dan kita ingin mengulangnya kembali. Tapi sekeras apapun usaha kita, masa lalu tetap tidak akan kembali. Sejarah telah tertulis, skenario Tuhan sudah berjalan, kita tidak bisa menghentikannya atau membuatnya kembali. Tapi kita bisa membuat keputusan-keputusan yang mungkin akan membuat hidup kita menjadi lebih dari masa lalu yang telah kita tinggalkan. Keputusan-keputusan yang pada akhirnya membawa kita ketempat yang terbaik. Ada pepatah cina yang mengatakan, 'jika kau ingin melihat bagaimana masa depanmu, lihatlah dirimu saat ini.' Anggap saja masa lalu itu seperti kaca spion pada mobil, sesekali boleh kita melihatnya agar kita tidak 'menabrak' lagi dan bisa lebih berhati-hati, tetapi kita juga harus melihat ke depan. Masa lalu sudah tertulis jelas, sedangkan masa depan masih kabur dan itu ditentukan oleh keputusan-keputusan yang kita buat saat ini. Manfaatkanlah sebaik-baiknya waktu yang kita miliki saat ini. Manfaatkanlah setiap detik dan momennya karena waktu tidak akan pernah kembali.

Selasa, 23 Desember 2014

Cinta dan Waktu

Alkisah di suatu pulau kecil, tinggalah berbagai macam benda-benda abstrak. Ada Cinta, Kesedihan, Kekayaan, Kegembiraan, dsb. Mereka hidup berdampingan dengan baik. Namun suatuketika, datang badai menghempas pulau kecil itu, dan air laut tiba-tiba naik, akan menenggelamkan pulau tersebut. Semua penghuni mulai cepat-cepat berusaha menyelamatkan diri masing-masing. Cinta mulai kebingungan, karena ia tidakcheap generic cialisdapat berenang dan tidak memiliki perahu. Ia berdiri di tepi pantai untuk mencoba mencari pertolongan. Sementara itu, air makin naik membasahi kaki cinta.Tak lama kemudian, Cinta melihat Kekayaan sedang mendayung perahu. “Kekayaan, Kekayaan, tolong aku”, teriak Cinta. “Aduh maaf cinta, perahuku telah penuh dengan harta bendaku. Aku tidak dapat membawamu, nanti perahuku tenggelam. Lagipula tidak ada lagi tempatbagimu di perahu ini”, kata Kekayaan. Lalu kekayaan kembali bergegas mendayung perahunya untuk pergi. Cinta merasa sedih sekali.Namun kemudian Cinta melihat Kegembiraan lewat dengan perahunya. “Kegembiraan, tolong aku”, teriak Cinta. Namun Kegembiraan terlalu gembira karena ia dapat menemukan perahu, sehinga ia tidak mendengar teriakan Cinta. Air semakin tinggi membasahi Cinta sampai ke pinggangnya, sehingga Cinta semakin panik.Tidak lama kemudian, lewatlah Kecantikan. “Kecantikan, bawalah aku bersamamu”, pinta Cinta. “Wah Cinta, lihatlah. Kamu basah dan kotor, aku tidak bisa membawamu ikut. Nanti kamu mengotori perahuku yang indah ini”, sahutKecantikan. Cinta sedih sekali mendengarnya, ia mulai menangis terisak-isak.Saat itu lewatlah Kesedihan, “Wahai Kesedihan, bawalah aku bersamamu”, Cinta meminta untuk ikut bersamanya. “Maaf Cinta, aku sedang sedih, dan aku ingin sendirian saja”, kata Kesedihan sambil terus mengayuh perahunya. Cinta putus asa, ia merasakan air makin naik dan akan menenggelamkannya.Pada saat itu terdengar suara, “Cinta, mari cepat naik ke perahuku”. Cinta menoleh ke arah suara tersebut, dan melihat seorang tua dengan perahunya. Dengan cepat-cepat Cinta langsung menaiki perahu tersebut tepat sebelum airmenenggelamkannya.Di pulau terdekat, orang tua tersebut menurunkan Cinta dan segera pergi. Padasaat itu barulah ia sadar bahwa ia sama sekali tidak mengetahui siapakah orang tua yang telah memberi pertolongan sehingga dirinya selamat. Cinta segera menanyakan pada seorang penduduk di pulau tersebut, siapa sebenarnya orang tua tadi.“Pak, siapakah orang tua tadi??”, tanya Cinta. “Oh, orang tua tadi?! Dia adalah sang waktu”, kata penduduk. “Tapi mengapa ia menyelamatkanku? Aku tidak mengenalnya, bahkan teman-teman yang mengenalku pun enggan menolongku”, Cinta heran.Dan penduduk itu pun menjawab, “Hanya waktulah yang tahu, berapalah nilai yang sesungguhnya dari Cinta itu”.

Pelajaran Dari Si Burung Pipit

Ketika musim kemarau baru saja mulai, seekor burung pipit merasakan tubuhnya kepanasan. Lalu ia mengumpat kepada lingkungan yang tidak bersahabatdengannya, kemudian ia memutuskan untuk meninggalkan tempat yang sejak dulu menjadi habitatnya. Ia terbang ke utara, yang konon kabarnya disana udaranya selalu sejuk dan dingin. Ternyata benar, ia mulai merasakan sejuknya udara di utara. Makin ke utara, ia makin merasakan sejuknya udara disana. Ia semakin bersemangat memacuterbangnya lebih ke utara lagi.Terbawa oleh nafsu, ia tidak sadar bahwa kepakan sayapnya telah tertempel oleh gumpalan salju. Makin lama makin tebal, dan akhirnya ia terjatuh ke tanah karena tubuhnya terbungkus oleh salju. Sampai ke tanah, salju yang menempel di tubuhnya justru semakin tebalhingga akhirnya si burung pipit tidak mampu berbuat apa-apa. Dia menyangkabahwa riwayatnya telah tamat pada saat itu, dan ia merintih sambil menyesali nasibnya.Mendengar suara rintihan si burung pipit, ada seekor kerbau yang kebetulan melintas dan menghampirinya. Namun si pipit kecewa, mengapa yang datang hanya seekor kerbau. Ia pun menghardik si kerbau agar menjauh dan dalam hatinya mengatakan, makhluk yang tolol tidak akan berbuat sesuatu untuknya.Si kerbau tidak banyak bicara. Ia hanya berdiri, lalu ia buang air kecil tepat di atas burung pipit tersebut. Si Pipit makin marah dan memaki-maki si kerbau. Namun, si kerbau tetap diam tanpa bicarasepatah kata. Ia pun maju selangkah, dan membuang kotorannya tepat di atas tubuh si Pipit. Dan seketika, Pipit tidak dapat bicara karena telah tertutup kotorankerbau, dan si burung pipit mengira dia akan mati karena tidak bisa bernafas.Namun perlahan-lahan, ia merasakan kehangatan. Salju yang menempel pada bulu-bulunya, perlahan-lahan meleleh oleh hangatnya kotoran kerbau tadi. Kemudian ia dapat bernafas lega dan dapat melihat kembali langit yang cerah.Si Pipit berteriak kegirangan, bernyanyi keras sepuas-puasnya. Karena mendengar suara nyanyian si burung pipit, ada seekor kucing yang mencari danmenghampiri sumber suara tersebut. Ia mengulurkan tangannya, mengais tubuh si burung pipit, kemudian menimang-nimangnya, menjilati tubuhnya, mengelus,dan membersihkan sisa-sisa salju yang masih menempel pada bulu-bulu si burung pipit.Setelah bulunya bersih, si burung pipit bernyanyi dan menari kegirangan. Ia mengira, telah mendapatkan teman yang baik dan baik hati.Tapi, apa yang terjadi kemudian. Seketika itu juga, dunia terasa begitu gelap baginya. Dan, tamatlah riwayat si burung pipit saat itu.Dalam kehidupan, tidak semuanya yang nampak baik itu baik, jahat itu jahat. Namun bisa saja berbalik meskipun terlihat elok, karena halaman tetangga yang nampak hijau belum tentu cocok buat kita. Dan yang terpenting, baik buruknya penampilan, jangan digunakan sebagai satu-satunya tolak ukur. Serta ketika kita baru saja mendapatkan kenikmatan, jangan sampai lupa serta keburu nafsu, agar kita tidak melupakan apa yang seharusnya dilakukan selanjutnya.

Kisah Anak Penjual Koran

Pagi itu seperti biasa saya berangkat pagisetelah subuh dari rumah, ke tempat penyimpanan motor di bilangan cawang, uki, walau sering terlambat, kali ini saya datang labih awal ketempat menunggu bis antar jemput yang membawa saya ke kantor, saya menyukai naik bus jemputan karena lelah berkendara dari depok-cikarang. Tidak tahan kemacetan ibu kota.Seperti biasa saya duduk bersama rekan rekan sambil menunggu jemputan. Tetapi karena saya datang lebih awal, munculah seorang bocah lelaki yang seperti biasa menawarkan Koran kepada semua penduduk shelter.” Koran, Koran, Kompas, Media, tempo, republika, warta kota” begitu teriak bocah laki-laki tersebut menawarkan Koran kepada kami. “Koran bang” dia menawari ku untuk membeli Koran. “seperti biasa kompas satu” kataku meminta Koran yang biasa kubaca setiap pagi.Tangan mungilnya dengan cekatan memilih Koran yang kuminta diantara tumpukan Koran dagangannya.” ini bang Koran kompasnya” memberi Koran yang aku minta kepadanya, “nih ada kembaliaanya engga” kataku sambil menyodorkan uang Rp 50.000, kepadanya. “beres bang, pasti ada” segera dikeluarkan kembaliannya dari tas gembloknya yang kotor, “wah pagi-pagi uangnya dah banyak ya” kataku kepada bocah tersebut.“Allhamdulilah bang, rejeki saya lagi lancar” katanya sambil tersenyum senang. Dan setelah itu diapun berlalu menawarkan Koran kepada para penghuni shelter lainnya.Saat ini pukul 05.20, masih terlalu lama jemputan ku datang, maka saya menyempatkan membaca koran kompasyang tadi saya beli pada bocah tukang Koran tersebut.Tanpa sadar saya memperhatikan betapagigih seorang bocah tukang Koran tersbutmencari uang, dengan menawarkan daganganya kepada semua orang yang datang dan pergi silih beranti.Sepintas tampak keringat membasahi wajahnya yang tegar dalam usia beliaya harus berjuang memperoleh uang secara halal dan sebagai pekerja keras.” Koran, mba ada tabloid nova, ada berita selebritisnya nih mba, atau ini tabloid bintang, ada kabar artis bercerai” katanyabagai seorang marketing ulung tanpa menyerah dia menawarkan Koran kepada seorang wanita setengah baya yang pada akhirnya menyerah dan membeli satu tabloid yang disebut sang bocah tersebut.Sambil memperhatikan terbersit rasa kagum dan rasa haru kepada bocah tersebut, dan memperhatikan betapa gigihnya dia berusaha, hanya tampak senyum ceria yang membuat semua orang yang ditawarinya tidak marah. Tidak terdapat sedikit pun rasa putus asa dalam dirinya, walaupun terkadang orang yang ditawarinya tidak membeli korannya.Sesaat mungkin bocah tersebut lelah menawarkan korannya, dan dia terduduk disampingku, “kamu engga sekolah dik” tanyaku kepadanya “engga bang, saya tidak ingin sekolah tinggi-tinggi” katanya.“engga ada biaya dik’ tanyaku menyelidik, “Bukan bang, walau saya tukang Koran saya punya cita-cita” jawabnya, “maksudnya, kan dengan sekolah kamu bisa mewujudkan cita-cita kamu dengan lebih mudah” kataku menjawab.“Aku sering baca Koran bang, banyak orang yang telah sekolah tinggi bahkan sarjana tidak bekerja bang, alias nganggur. Mending saya walau sekolah tidak tinggi saya punya penghasilan bang” katanya berusaha menjelaskan kepadaku. “abang ku bang, tidak sekolah bisa buka agen Koran penghasilan sebulannya bisa 3-4 juta bang, saya baca di Koran gaji pegawai honorer Cuma 700ribu, jadi buat apa saya sekolah bang”tanyanya kepadakuSaya mengerutkan kening, tertanda saya tekejut dengan jawaban bocah kecil tersebut pemikiran yang tajam, dan sebuah keritik yang dalam buat saya yangseorang sarjana. Dalam hati saya membenarkan perkataan anak tersebut, UMR kota bekasi saja +/-900rb untuk golongan smu.Saya pun tersenyum mendengar jawaban anak tersebut, kemudian bus jenputan saya pun tiba dan saya meninggalkan bocah tersebut tanpa bisa menjawab pertanyaanya, apa tujuan kita sekolah, menjadi sarjana.?Karena banyak sarjana sekarang yang begitu lepas kerja mengaggur, tidak punyapenghasilan, dan banyak juga karena belum bisa bekerja yang melanjutkan S2 dengan alas an ingin mengisi waktu luangdan menambah nilai jual dirinya.Tapi pernyataan bocah penjual Koran tersebut menyadarkan saya, tentang rejeki, dan tujuan dari bersekolah, yang saat ini saya mungkin kalah dengan bocah kecil tersebut, walau saya seorang yang mempunyai penghasilan dan mempunyai suatu jabatan saya hanyalah manusia gajian, saya hanya seorang buruh.

Senin, 17 Maret 2014

ORANG TUAMU BUKAN BARANG RONGSOKAN

Di Jepang, dulu pernah ada tradisi membuang orang yang sudah tua ke hutan. Mereka yang dibuang adalah orangtua yang sudah tidak berdaya, sehingga tidak memberatkan kehidupan anak-anaknya. Pada suatu hari, ada seorang pemuda yang berniat membuang ibunya ke hutan. Karena si Ibu telah lumpuh dan agak pikun. Si pemuda tampak bergegas menyusuri hutan sambil menggend...ong ibunya. Si Ibu yang kelihatan tak berdaya, berusaha menggapai setiap ranting pohon yang bisa diraihnya lalu mematahkannya dan menaburkannya di sepanjang jalan yang mereka lalui. Sesampai di dalam hutan yang sangat lebat, si anak menurunkan Ibu tersebut dan mengucapkan kata perpisahan sambil berusaha menahan sedih karena ternyata dia tidak menyangka tega melakukan perbuatan ini terhadap Ibunya. Justru si Ibu yang tampak tegar. Dalam senyumnya, dia berkata, 'Anakku, Ibu sangat menyayangimu. Sejak kau kecil sampai dewasa, Ibu selalu merawatmu dengan segenap cintaku. Bahkan sampai hari ini, rasa sayangku tidak berkurang sedikitpun. Tadi Ibu sudah menandai sepanjang jalan yang kita lalui dengan ranting-rantingkayu. Ibu takut kau tersesat. Ikutilah tanda itu agar kau selamat sampai di rumah". Setelah mendengar kata-kata tersebut, si anak menangis dengan sangat keras. Kemudian langsung memeluk ibunya dan kembali menggendongnya untuk membawa si Ibu pulang ke rumah. Pemuda tersebut akhirnya merawat Ibu yang sangat mengasihinya sampai Ibunya meninggal.

Seorang Istri Mengeluh Kepada Ibunya

“Ma…Aku sudah sebulan menikah. Aku sudah berusaha membuat masakan yang enak untuk suamiku. Kenapa masakanku masih saja tidak enak?” “Sabarlah anakku…Belajar itu butuh waktu…Tetaplah semangat…” Enam bulan kemudian sang anak bertemu ibunya lagi. “Ma…Apa aku ditakdirkan tidak bisa masak ya ma? Sudah enam bulan berlalu. Setiap hari aku berusaha masak yang enak, tapi masih saja masakanku terasa tidak enak…” “Apa yang kamu lakukan setiap hari itu anakku?” “Aku berusaha memasak sesuai resep dari mama…” “Dengan cara yang sama? Dengan bahan-bahan yang sama?” “Benar ma…Aku masak sesuai resep mama. Sejak awal langkahku sudah persis sama dengan resep mama. Bahan-bahannya juga sudah benar. Aku sudah berusaha melakukan yang terbaik” “Kamu tidak pernah merubah cara memasaknya? Atau mencari bahan merk lain?” “Nggak pernah ma…Aku sudah merasa persis sesuai resep sejak awal memasak” “Anakku…Sejatinya kamu hanya belajar memasak satu kali, saat awal kamu memasak. Lalu kamu ulang-ulang sebanyak seratus delapan puluh kali” “Maksudnya apa ma?” “ Saat kamu awal memasak dan mengetahui hasil masakanmu tidak sesuai harapan, kamu seharusnya mengevaluasi proses memasakmu. Dan kamu harus melakukan perubahan pada proses itu bila kamu ingin hasilnya berubah menjadi lebih baik. “ RENUNGAN: Teman-teman, memang benar bahwa syarat menuju sukses adalah konsisten dan bersungguh-sungguh. Namun bila hasil kerja kita tidak sesuai dengan yang kita harapkan, kita harus segera melakukan evaluasi dan merubah cara kerja kita. Suatu hal yang berbeda antara bekerja bertahun-tahun dengan bekerja setahun dan mengulangnya berkali-kali. Bila anda ingin mendapatkan HASIL yang BERBEDA, anda HARUS menggunakan CARA yang BERBEDA. Bila anda ingin mendapatkan HASIL yang LEBIH BAIK, anda HARUS melakukan dengan CARA yang LEBIH BAIK

Selasa, 30 Oktober 2012

Tiga Koruptor Menguak Takdir


Upaya pemerintah memberantas korupsi menunjukkan keseriusan yang luar biasa. Saking luar biasanya, hal-hal di luar kebiasaan pun dilakukan. Tiga pelaku pembawa kabur dana BLBI yang digolongkan sebagai pelaku tindak pidana korupsi, ‘diboyong’ ke istana. Mereka dicitrakan sebagai pelaku kejahatan ekonomi kooperatif dan dipromosikan secara terarah menjadi figur suri tauladan bagi para penggelap uang rakyat yang lain. Angin segar bagi para pelaku kejahatan ekonomi kelas ratusan milyar ke atas pun sengaja dihembuskan Jaksa Agung dengan iming-iming kemungkinan dikeluarkannya SP3 bagi para koruptor ‘santun’ dan ‘budiman’. Alasan ‘pengampunan’ menurut logika sederhananya karena di tengah perekonomian bangsa yang minus dana, mereka kembali ke pangkuan Ibu pertiwi dengan membawa uang yang cukup lumayan jumlahnya. Bahwasanya uang tersebut hasil kerja membobol kas negara delapan tahun yang lalu, sepertinya menjadi urusan sekunder. Jadi sekarang  yang penting mereka mau kembali, koperatif dan nyetor.
Ketika peristiwa terjadi, malam itu kebetulan saya tengah berada di dalam taksi mengikuti peristiwa sensasional ini lewat pemberitahuan radio. Belum lagi seluruh pemberitaan selesai, Pak Supir yang berdarah tapanuli langsung bereaksi, “Enak kali mereka. Tahu begitu aku pilih jadi penjahat kelas berat dari pada jadi supir taksi, biar bisa bertandang ke istana. Bah, makin pening aku dibuatnya...! “secara refleks saya berusaha meredam kegusarannya, “jangan berprasangka buruk dulu, Pak. Kita hargai saja niat baik pemerintah memberantas korupsi. Soal cara kan masih bisa dikoreksi. “ Reaksi Pak Supir sangat tak terduga. Suaranya malah semakin tinggi. “Macam mana bos ini? Aku saja yang berpendidikan pas-pasan cukup tahu bahwa Istana itu simbol lembaga negara tertinggi di negeri ini. Apa pantas orang-orang seperti itu diundang ke istana? Aku tersinggung, Bos...!
Mendengar ucapan supir taksi yang begitu menyentuh, saya jadi terdiam. Luar biasa, supir taksi saja tahu bahwa istana adalah simbol kehormatan dan kewibawaan negara yang citra dan marwahnya perlu dijaga. Apakah para petinggi negeri yang malam itu mengusung tiga pelaku tindak pidana korupsi ke istana, tidak tahu hal ini? Tidakkah harga yang harus dibayar oleh bangsa ini menjadi lebih mahal ketika yang dipertaruhkan adalh bangunan tata nilai yang selama ini kita junjung tinggi dan sangat tinggi pula nilainya?!
Dipandang dari sisi niat baik pemerintah melalui kaca mata politik, langkah memboyong para koruptor (Fugutive) bertandang ke istana, bisa dimengerti walau masih sulit untuk dipahami. Dalam kaitan pragmatisme politik bagi para pembobol dana BLBI yang masih berada di persembunyian, langkah ini bisa saja merupakan tawaran yang sexy dan memukau. Dengan demikian mereka merasa nyaman dan terjamin hingga mempunyai keberanian pulang dan mengembalikan uang hasil ‘curian’. Tentunya dengan harapan dapat kembali menghirup hawa bebas di negeri ini sebagai warga negara yang lumayan terpandang.
Dalam kaitan tat laksana penegakan hukum secara kelembagaan, peristiwa ini merupakan preseden yang cukup memuaskan. Akan lebih pas bila para koruptor diboyong ke kantor Kejaksaan Agung RI, karena di lembaga inilah kewenangan menghentikan atau melanjutkan proses pidana bagi para pelanggar hukun ditentukan. Bukan di Istana tempat dimana Yang Mulia Presiden Republik Indonesia tinggal dan berada.
Menyangkut kebesaran hati para petinggi negeri yang menghembuskan angin surga akan mengeluarkan SP3 bagi koruptor BLBI bila bersikap kooperatif dan berkenan mengembalikan uang korupsinya, saya jadi teringat pada mereka yang terpidana dalam kasusu Akbar Tandjung sehubungan skandal proyek fiktif belum lama ini. Bila ketiga pembawa kabar uang negara kelak dibebaskan, tidakkah mereka juga layak dibebaskan toh uang yang dicuri juga dikembalikan? Bila kebijakan pemutihan dosa lewat pengembalian uang haram ini dilembagakan, selain sulit mencari payung hukum yang mendasarinya, satu hal yang menarik adalah pesan yang ditinggalkan oleh peristiwa ini kepada lembaga KPK dan TIPIKOR. Pesannya kira-kira begini; Kalian tidak perlu susah payah berpanjang-panjang memriksa para koruptor, cukup lontrakan pertanyaan, “Mau kembalikan atau tidak ?” Bila mereka mau dan kooperatif, bebaskan. Bila tidak, cepat kirim ke penjara. Lewat peristiwa luar biasa ini, benar juga keluhan pak supir taksi: pening aku dibuatnya! Lebih pening lagi ketika mempertanyakan, kalau istana sudah direndahkan martabatnya sejauh itu, lalu kemana lagi rakyat harus mencari istananya.